Reportase Singkat Mengenai Komunitas Grunge Batang
Kabupaten Batang merupakan daerah yang menurut masyarakat umum, kota yang kecil terkadang juga banyak yang belum mengetahui daerah Kabupaten Batang. Dari sudut pandang saya, Kabupaten Batang merupakan daerah pesisiran yang basisnya bukan kota seni maupun kota budaya tidak seperti Yogyakarta dan Solo. Namun Batang memiliki masyarakat yang sangat antusias dengan kesenian, entah itu kesenian rakyat, maupun kesenian modern. Di dalamnya terdapat seni musik, seni tari, seni rupa, seni teater, dan masih banyak seni-seni lainnya. Di dalam tulisan ini, saya mengkaji dari era awal munculnya gigs Terasakustik awal hingga sekarang. Kajian tersebut saya fokuskan lebih mendalam ke dalam masyarakat grunge dan musisi-musisi grunge Batang yang masih eksis hingga sekarang.
Pada dasarnya komunitas apapun tentunya memiliki idealisme yang berbeda-beda. Kabupaten Batang, sebuah daerah yang berada di pesisiran pantai utara, dan bertetanggan dengan Kota Pekalongan, memiliki berbagai macam komunitas musik yang beragam jenis dari yang pop, reggae, punk, rock, hardcore, grunge, metal, underground, hingga ke musik islami dengan idealisme dan karakteristik yang berbeda-beda pula. Namun dalam tulisan ini, saya memfokuskan pada komunitas grunge. Mungkin untuk selanjutnya jika ada yang mau bekerjasama untuk meneliti komunitas musik se-Kabupaten Batang, saya dengan senang hati menerimanya, dan mungkin bisa dijadikan buku sebagai dokumentasi singkat tertulis untuk komunitas musik Batang. Seperti halnya tulisan ini semoga bisa menjadi acuan atau pijakan untuk tulisan-tulisan berikutnya, karena satu tulisan ataupun penelitian, menurut saya masih sangat kurang untuk menjadi bukti otentik sebuah fenomena yang ada di masyarakat, apalagi untuk dijadikan bukti sejarah. Bisa jadi menghabiskan beribu-ribu tulisan atau penelitian untuk menjadi sumber-sumber yang valid.
Di dalam suatu komunitas tentunya terdiri dari beragam individu dengan latar belakang yang berbeda-beda pula. Walaupun mereka tergolong menjadi satu dalam lingkup komunitas dengan kecintaan musik dan pergerakan yang sama, tentunya tetap muncul perbedaan keyakinan maupun perbedaan pendapat satu sama lain. Secara alamiah wajar-wajar saja, dan juga masyarakat pendukungnya akan mengalami kesamaan sebuah konsep diri mengikuti pergerakan yang dijadikan acuan atau pijakan dalam menjalani kehidupannya.
Grunge sendiri pada mulanya hanyalah sekumpulan anak muda yang mencintai musik grunge dan pergerakannya. Walaupun dikatakan komunitas, namun mereka tidak selalu menjadi satu, dalam arti komunitas di sini saya golongkan untuk menyatukan beragam kumpulan temen-temen grunge yang ada di Batang, dan supaya tidak melebar kemana-mana saya jadikan satu kesatuan untuk menjadi Komunitas Grunge Batang. Gigs grunge yang saya masukan dalam tulisan saya yaitu Batang Grunge Alive yang sudah mencapai gigs ke 7. Yah walaupun hitungannya masih tergolong muda, tak apalah toh juga bukan umur yang diutamakan. Batang Grunge Alive merupakan event tahunan yang memfasilitasi masyarakat pendukungnya utnuk berapresiasi dan berkreasi melalui musik grunge dan pergerakannya. Di dalamnya tidak sedikit grup band yang masih eksis hingga sekarang, sebut saja The Caroline, Rickless, Pedhoyo Asin, dan Peanut Butter. Pada dasarnya mereka sering kali comat-comot personil jika di setiap eventnya terdapat personil yang absen. Namun hal itu tidak menjadikan mereka bubar seperti band-band besar di luar sana. Band-band ini pada dasarnya merupakan band-band cover atau bisa disebut band yang membawakan karya dari orang lain untuk dimainkan ulang menggunakan gayanya masing-masing, it's no problem, why not? itsn't commercial. Karya-karya yang sering diusung seperti Pearl Jam, Soundgarden, Mother Love Bone, Green River, dan masih banyak lagi. Namun eksistensi band grunge lokal masih tergantung dengan seberapa seringnya event grunge di kota kecil ini. Di sinilah peran pemerintah dibutuhkan untuk mendukung musisi-musisi lokal dalam menyalurkan bakatnya dalam bentuk apapun.
Bentuk pertunjukan meliputi berbagai aspek yang tampak serta terdengar di dalam tatanan yang mendasari suatu perwujudan seni pertunjukan dalam bentuk gerak, suara, dan rupa. Ketiga aspek tersebut menyatu menjadi satu keutuhan dalam penyajian. Musik grunge di Batang pada umumnya memiliki suatu komposisi musik yang sederhana, jika dilihat dari komposisi instrumensasi terdiri dari drum, guitar, bass, dan vocal. Namun juga seringkali mereka menambahkan instrumen lain sebagai pemanis, yaitu violoncello ataupun saxophone. Terkadang juga pertunjukan musik grunge Batang dibawakan secara akustik dengan apresiator yang biasanya saling moshing dan ricuh sendiri-sendiri, di sini berbalik menjadi syahdu dan duduk manis untuk mengapresiasi pertunjukan yang disajikan.
Rangkaian kegiatan pertunjukan musik grunge di Batang tentu memiliki persiapan yang berhubungan dengan pementasannya. Dari pengamatan saya di lapangan, bahwa bentuk pertunjukan musik grunge di Batang meliputi beberapa unsur yaitu waktu penyajian, tempat pentas, persiapan, penonton, dan perlengkapan pementasan. Namun terkadang hal-hal seperti ini tidak mereka perhatikan, dan sebenarnya secara struktural mereka sudah memenuhi syarat pertunjukan.
Pertunjukan musik grunge Batang diselenggarakan dalam pementasan yang ditujukan untuk umum, seringkali juga menjadi pengisi acara di acara komunitas grunge di luar Batang. Dalam pementasan ini biasanya berlangsung selama kurang lebih lima sampai tujuh jam, atau kondisional menyesuaikan penyaji. Untuk event musik grunge sendiri sampai saat ini yang masih bisa dikatakan eksis hanya dua event musik grunge, antara lain Batang Grunge Alive, dan Terasakustik tribute to Grunge. Kedua acara tersebut diselenggarakan oleh Komunitas Grunge Batang dengan tujuan mengenalkan musik grunge kepada masyarakat umum, serta sebagai ajang silaturahmi pecinta musik grunge baik yang di Batang maupun luar Batang.
Suatu pertunjukan apapun bentuknya akan selalu memerlukan tempat atau ruangan guna menyelenggarakan pertunjukan itu sendiri. Tempat atau ruangan tersebut disebut pentas atau panggung, yang artinya bagian dari arena pertunjukan yang ditata sedemikian rupa sebagai tempat pertunjukan. Panggung merupakan sarana penting dalam pertunjukan seni terutama pertunjukan musik. Di dalam acara musik grunge yang diadakan oleh komunitas grunge Batang terdapat di tiga tempat yang berbeda, yaitu di Indoor Anjungan Batang, Outdoor Anjungan Batang, dan di Pinggiran Jalan Veteran Kabupaten Batang.
Indoor Anjungan Batang merupakan gedung serbaguna yang berada di Anjungan Batang. Sudah menjadi tempat langganan untuk acara Batang Grunge Alive akhir-akhir ini. Gedung tersebut memiliki kapasitas kurang lebih 150 penonton. Biasanya untuk peletakan panggung dibuat dengan bentuk proscenium atau penonton hanya dapat melihat dari satu arah saja, karena di sisi kanan dan kiri panggung terbatas oleh dinding gedung. Berbeda dengan tempat pertunjukan yang sebelumnya sudah dibahas.
Tempat berikutnya yang pernah digunakan untuk pertunjukan musik grunge Batang yaitu Halaman Luar Anjungan Batang, yang memiliki kapasitas untuk menampung penonton lebih banyak daripada Indoor Anjungan Batang. Panggung pertunjukan untuk lokasi outdoor biasanya menggunakan panggung berbentuk terbuka atau tapal kuda. Di panggung berbentuk terbuka, penonton dapat mengapresiasi pertunjukan dari tiga arah yaitu depan, samping kiri, dan samping kanan. Terasakustik Tribute to Grunge merupakan event musik yang diadakan di Jalan
Veteran Kabupaten Batang. Di tempat ini mampu menampung lebih banyak
penonton dari berbagai kalangan, karena di sepanjang jalan ini merupakan
salah satu pusat keramaian di Batang. Di tempat tersebut dapat
dikatakan tempat yang strategis untuk lebih memperkenalkan musik grunge
terhadap khalayak ramai.
Produksi musik sangat erat hubungannya dengan apa yang disebut kreativitas. Dalam konteks kebaruan, musik grunge memang dapat dikatakan musik baru dan atau berbeda dari genre musik yang lain. Kebaruannya jelas mendasar dapat dirasakan melalui keutuhan musik dengan perpaduan genre musik rock alternatif, hardcore punk, dan heavy metal (Strong : 2011). Lebih lengkapnya, juga dapat dilihat dari unsur-unsur musik yang digunakan untuk menciptakan produk musik grunge.
Musik grunge di Batang merupakan musik yang tergolong sederhana dari segi permainan, maupun pembawaannya, karena tidak ditujukan untuk menghasilkan sebuah musik yang melulu mementingkan estetika bermusik. Dalam hal ini, estetika yang dimaksud yaitu estetika melodi, nada, vokal, dan lain-lain. Musik grunge merupakan musik yang diperuntukan sebagai pelepasan ekspresi diri. Misal saja, individu yang bukan penggemar grunge akut, pasti dia kesusahan dalam membawakan musik grunge, kesusahan yang dimaksud susah dalam pengkhayatan ekspresinya, coba saja kalau nggak percaya hahaha. Di sini gaya musik dipertaruhkan habis-habisan apabila musik yang disajikan ditonton oleh sang pemilik karya, atau yang sudah mendalami karya tersebut.
Gaya musik seseorang maupun kelompok akan terpengaruh oleh faktor-faktor kronologis dan geografis. Musisi grunge Batang pada umumnya menerapkan gaya mereka masing-masing individu yang kemudian di kolaborasikan dalam sebuah kelompok atau band untuk menjadi sebuah gaya kelompok yang utuh. Walaupun keseluruhan mereka masih mengcover lagu yang sudah ada, mereka tetap dituntut untuk membawakan karya sesuai dengan gayanya sendiri dengan berdasarkan apa yang sudah diamati dari sang pemilik karya, atau artist yang diacunya sebagai sarana bermusiknya. Biasanya mereka menggunakan video yang telah diunduh dari internet, VCD, hingga DVD sebagai pijakan-pijakan bermusiknya. Tidak akan mungkin seorang individu bergaya tanpa ada pijakan-pijakan yang telah ada.
Dilihat dari bentuk komposisi secara umum, musik dapat dibedakan menjadi tiga macam bentuk komposisi. Ketiganya meliputi komposisi untuk vokal, instrumental, dan untuk musik campuran. Komposisi untuk vokal adalah musik yang dinyanyikan menggunakan suara manusia. Musik instrumental adalah musik yang dibunyikan menggunakan instrumen musik. Sedangkan musik campuran merupakan perpaduan antara suara manusia/vokal dengan musik instrumen yang dihidangkan secara bersama-sama. Biasanya musik campuran berwujud musik instrumen yang digunakan untuk mengiringi vokal dalam wujud nyanyian.
Komposisi lagu itu sendiri merupakan gubahan yang memadukan unsur-unsur melodi, ritme, dan warna suara dalam bentuk karya yang dinamis, dihiasi dengan syair lagu sesuai dengan tema yang ditentukan. Untuk itulah, olahan kata maupun kalimat yang akan digunakan harus selayaknya memiliki nilai-nilai yang terkandung sesuai apa yang ingin disampaikan, sehingga sebuah karya tersebut mampu menimbulkan ketertarikan tersendiri oleh masyarakat pendukungnya. Tidak sedikit dalam pertunjukan musik grunge yang muncul ketidaktepatan menangkap nada yang seharusnya, entah dari segi permainan musik maupun vokalnya. Namun demikian, dari masing-masing personel tampak asyik-asyik saja dan sedikit bersikap masa bodoh dengan hal tersebut. Bahkan makna lagu dan nilai-nilai yang tersirat dalam lagu tersebut, sebagian dari mereka tidak mengetahuinya. Terkadang juga untuk artikulasi syair lagu yang dinyanyikan tersebut terkesan asal-asalan. Namanya juga Grunge, toh juga tidak bertujuan untuk dikomersilkan.
Jika diamati dari segi vokal, grunge memiliki karakteristik vokal yang kasar, melengking, dan selalu dibawakan dengan cara berteriak penuh emosional, contoh saja Nirvana. Warna suara yang membutuhkan tingkat emosional yang tinggi untuk menekan suara agar dapat terdengar kasar atau serak di suatu nada yang diinginkan atau bahkan di setiap nada yang dinyanyikan. Adapun yang memiliki karakter berbeda, yaitu yang berkarakteristik suara yang berat, seringkali menggunakan nada-nada rendah, dan terkadang membutuhkan geraman dalam membawakan lagunya.
Mengapa musik grunge dijadikan sebagai saran berkesenian dan banyak ditirukan oleh masyarakat pendukungnya di Batang, karena musik tersebut dianggapnya bermakna, yang dimaksud dengan bermakna dalam dunia seni terkait dengan penilaian terhadap seni itu sendiri, misalnya seni itu dapat dinikmati atau tidak, menggugah imajinasi atau tidak, menyentuh rasa atau tidak, dan mampu mewujudkan suatu nilai budaya atau tidak. Makna itu dianggap sebagai sesuatu yang ditemukan ketika mereka menghubungkan gejala yang dialami saat ini dengan pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam memorinya. Makna ada dalam benak masing-masing manusia, terus dihubungkan dengan kesejarahan atau peristiwa-peristiwa yang tersimpan dalam memori. Makna dalam musik setidaknya menunjuk apa, bukan tentang soundnya atau musiknya; apa yang sedang diusung atau dihadirkan; apa yang dilakukan oleh musik.
Musik adalah simbol. Simbol adalah bentuk-bentuk kebahasaan yang menggantikan berbagai macam makna yang kemudian membangkitkan perasaan-perasaan dan emosi yang menarik tindakan. Itulah pula tampaknya salah satu alasan mengapa sebagian dari pecinta musik grunge menerapkan musik grunge sebagai gaya hidup, pergerakan, pemikiran, dan sarana bermusiknya. Mungkin juga berdasarkan pengalaman masa lalu yang menjadikannya musik grunge sangat bermakna bagi diri masyarakat pendukungnya yang mungkin cerita hidupnya telah terwakili oleh musik grunge.
*tulisan ini masih sangat singkat. harap maklum



Komentar
Posting Komentar