VIRGINITAS
Sepertinya sudah tidak asing lagi mengenai bahasan yang satu ini, atau sebagian malah merasa risih mendengarnya, atau "ini lagi ini lagi yang dibahas". But it's ok guys, karena saya di sini dengan senang hati akan membahasnya, tidak peduli kalian suka ataukah tidak. Who cares? karena saya peduli, jadi saya bahas.
Ok langsung saja, meskipun keperawanan adalah hal yang sangat sensitif menurut kita yang kebetulan masih ada di dalam budaya timur, dan meskipun di saat ini juga banyak di antara kita justru masih menganggap keperawanan adalah hal yang sangat remeh, dan biar kita nya juga tidak salah persepsi, mari kita bersama berpikir batasan mengenai perawan atau tidak perawan.
Menurut pakarnya yang sudah tidak asing lagi, dia yang ahli mengenai masalah kandungan dan konsultan seks, yaitu Dokter Boyke, wanita disebut sudah tidak perawan lagi di saat selaput dara pada vaginanya robek. Dalam hal ini maksudnya selaput dara robek bukan hanya terjadi pada saat penetrasi penis disaat berhubungan seks. Bahkan ada juga yang disebabkan karena kecelakaan, atau pada saat olahraga, atau apalah. Mungkin yang terjadi pada pikiran kalian sebagian besar adalah tidak perawan karena sebagian besar akibatnya dari berhubungan seks, benarkah? Ok mari kita bahas masalah yang satu ini. Bercerita tentang virginitas pasti selalu menarik dengan norma-norma yang ada. Di budaya timur, tempat di mana kita tinggal ini, norma agama dan sosial selalu mengajarkan agar kaum hawa harus menjaga kesucian atau mahkota nya sampai dia menikah. Namun di era sekarang ini keadaan selalu berbicara lain, banyak di antara kita bahkan sekarang anak SMP pun menganggap keperawanan adalah bukan hal yang berarti. Buktinya saya pernah mendapati bahwa berhubungan seks saat pacaran adalah sesuatu yang wajar, tapi di sini bukannya saya naif dan berkesan sok suci atau apalah namanya, tapi di sini saya meskipun tergolong kaum adam hanya ingin mengajak kalian kaum hawa atau cewek-cewek hits atau cewek-cewek trendi, LOL. Banyak hal yang memang harus dipertimbangkan sebelum kamu memutuskan untuk melakukan dan menyerahkan semuanya ke laki-laki yang statusnya belum berhak untuk mendapatkannya.
Banyak kasus yang sering terjadi bahkan kita juga sering mendapatinya. Apabila ada teman kita khususnya para wanita curhat mengenai apa yang telah terjadi pada dirinya, belum lagi kasus yang telah menjadi konsumsi di media televisi, bahwa sampai-sampai merasa menyesal seumur hidupnya disaat kehilangan keperawanan di waktu dan di usia serta kepada orang yang salah, karena pacarnya meninggalkannya setelah "sukses dan puas" menikmati tubuhnya dan yang lebih parah lagi dalam keadaan hamil, (LOL, bersyukurlah kalian yang ditinggal dalam keadaan belum hamil haha). Nah kalau sudah seperti ini, siapa yang mau disalahkan? terus apa yang akan kamu lakukan buat kalian para adam seandainya kalian menjadi wanita dan tentunya kalian sendiri para wanita? Aborsi? atau bunuh diri? Yah, itu masalah yang sangat klasik di media televisi, di media tersebut juga pernah ditayangkan orang bunuh diri gara-gara hal yang sama). Harus ada sesuatu yang dipertimbangkan sebelum kamu jauh melakukan sesuatu, apapun yang kamu lakukan itu adalah tanggung jawab diri kamu sendiri, dan kamu tidak bisa menyalahkan orang lain atas apa yang telah terjadi pada dirimu. Semua itu terjadi atas kemauan kamu sendiri, meskipun dikerjakan oleh dua individu yang berbeda kelamin. Perlu diketahui dalam sex education, seks bukan hanya sekadar aktivitas fisik atau kebutuhan saja, melainkan melibatkan pikiran dan emosi di samping nafsu juga tentunya.
Seks dijadikan satu peristiwa yang membekas, jadi ketika child sexual abuse terjadi akan membuat trauma kata Dokter Boyke. Patut digaris bawahi harapan first sex adalah sesuatu yang romantis, lemah lembut, dan indah. Namun jarang juga yang terjadi adalah "wild sex" (dalam kata lain melakukan hubungan seks dengan cara paksaan atau ancaman, menurut saya), dan itu membuat trauma tersendiri bagi sang korban. Perbedaan harapan dan kenyataan ini mempengaruhi fungsi seksual secara biologis, firgit, dan vaginismus. Mungkin akan terjadi pada orang yang mengalami child sexual atau shocking sex, artinya kalian khususnya para wanita mesti hati-hati sebelum memutuskan untuk tidak perawan. Jika menurut mitos, bahwa masih perawan saat usia remaja dan belum dianggap dewasa mungkin menjadi pemicu bercinta sedini mungkin tanpa pikir panjang dan terburu-buru, tapi kenapa harus terburu-buru? apakah takut dianggap belum dewasa? tidak gaul? tidak Amerika? atau tidak Rock n Roll?
Memang pada dasarnya semakin kita cepat mengenal seks, kita semakin punya pengalaman di dalam bercinta. Tapi tolong pikirkan lagi, sebelum kalian memutuskan untuk melakukannya. Jika memang belum siap ya jangan dilakukan atau juga dipaksakan. Apapun itu resikonya, diputusin pacar gara-gara tidak mau gituan? putusin saja, cari yang lain lagi, susah amat, amat aja gak susah. Karena nanti kenikmatan yang diharapkan tidak bakalan terasa (itu jika kalian sama-sama memandang seks sebagai kebutuhan yang kalian lakukan sama-sama butuh dan sama-sama mau melakukannya atas dasar sama butuhnya dan sama sukanya tidak masalah menurut saya tanpa harus ada norma-norma yang dibenturkan, But Think Again!!).
Mengenai seks di usia dini, bukan jaminan tidak akan menyesal di kemudian hari, karena itu kalian para wanita jangan terlalu cepat menerima ajakan untuk bercinta dari pasanganmu masing-masing. Seks bukan hanya orgasme, seks adalah bagian dari bentuk komunikasi dengan pasangan, saling berbagi sensasi dan kasih. Seks tidak bisa dilakukan dengan sembarangan orang (terkecuali kalau sudah jadi bisnis komersil, tahu sendirilah istilah lainnya). Jadikanlah peristiwa ini momen yang indah, bukan sebuah mimpi buruk yang diikuti rasa takut, bersalah dan penyesalan. Kalaupun tetap ingin melakukan dengan pacar kamu, tanyakan pada diri kamu sendiri baik kamu itu laki-laki atau wanita, "bener gak dengan orang ini?", "bakalan ada yang tersakiti gak setelah ini?", "bakalan ada penyesalan gak?", dan setelah yang pertama berlangsung dan kamu ingin melakukannya lagi buatlah pertanyaan lagi, "bener gak aku pengen lagi?", "bener gak dia orang yang tepat?", meskipun seks itu nyaman dan enak, setelah selesai bercinta kalau kamu ingin tahu sex is not for you and he/she, ingat-ingat lagi, selesai bercinta, pasangan kamu say "I Love You" apa tidak? tetap memeluk atau memegang erat tangan kamu atau tidak?. Karena makna terbesar adalah di saat-saat seperti ini. Di saat selesai bercinta, bagaimana perlakuan pasangan kamu setelah bercinta merupakan refleksi sikap pasangan kita yang sebenarnya terhadap kita.
Sekian dan terima kasih, always think twice before you act! and you will get your goals.


Komentar
Posting Komentar