Istilah Cutting Edge Music
Berangkat dari fenomena di ataslah terminologi cutting edge muncul. Musik cutting edge seringkali dinilai sebagai musikalisasi yang keluar dari jalur dan terkadang membuat orang berekspektasi bahwa musik cutting edge adalah musik yang susah dicerna dan menjadi konsumsi orang-orang berselera aneh. Point inilah yang menjadi rancu dan salah kaprah.
Mari kita bahas dengan alur yang runtut. Sejauh ini publik menilai dan menggeneralisasi artis/band yang berkarya secara do it yourself sebagai artis/band indie meskipun musik yang dibawakannya amat mainstream sekali misalnya. Ini tidak sepenuhnya salah, mengingat persepsi ini muncul dari pengertian status artis/band atau minor label yang tidak dikuasai/dikendalikan major label. Pemahaman ini menimbulkan jenis musisi "indie karena gagal major". Terpaksa merilis karyanya secara independen karena tidak ada major label yang tertarik, misalnya. Bagaimana bila sebuah band beridealisme mainstream namun mereka berproduksi secara swadaya? Apakah itu termasuk indie? Tentu tidak, karena independen secara minor label atau self-released tidak menjamin artis/label berkarakter indie, karena seseorang yang berjiwa mainstream pun bisa saja menghasilkan karya berkarakter mainstream tapi dikemas secara Do-It-Yourself dengan dalih kebebasan ekspresi atau budget minim.
Pada dasarnya etos indie muncul karena ada artis/band dengan idealisme tinggi yang tidak menghendaki adanya campur tangan label dalam proses kreatifnya dan menginginkan kebebasan sepenuhnya dalam berkespresi yang seringkali tidak sejalan dengan pakem bisnis dari major label ataupun jalur mainstream. Saya ambil contoh dari Death Vomit, band asal Jogja yang berkeras memilih balik kandang jika produser tetap meminta mereka mengubah gaya vokalnya menjadi lebih bernyanyi pada kompilasi Metalik Klinik I di tahun 1997). Atas tafsir sempit tersebut, kemudian berkembang istilah cutting edge, paham dimana selain melakukan pendobrakan atas kelumrahan, juga menjadi pembeda atas mereka yang masuk dalam golongan "indie gagal major".
Lalu bagaimanakah menentukan suatu jenis musik, apakah termasuk cutting edge atau bukan?
Sulit rasanya menjawab pertanyaan tersebut. Bisa saja dijawab: "musik cutting edge merupakan musik yang sudah naik tingkatannya dari indie, naik strata.Lebih memerlukan ekstra pemahaman untuk mengapresiasinya, lebih rumit struktur musiknya, musiknya kaum minoritas". Tapi ternyata tidak bisa seperti itu juga, karena ternyata musik yang mendekati mainstream dan easy listening pun bisa masuk kategori cutting edge. Elemen pembedanya adalah berani merubah cara penyampaian pesan dari suatu karya tersebut. Misalkan pada industri musik lokal saat ini trend nya adalah lagu dengan tema-tema percintaan dan perselingkuhan, maka artis/band yang mempunyai jiwa cutting edge akan bisa memperoleh sudut pandang yang berbeda dari tema yang sama, sehingga tidak klise. Ambil contoh Pandai Besi dan Efek Rumah Kaca yang walaupun amat ramah di telinga tapi kualitasnya jauh di atas artis/band yang rajin muncul di acara musik pagi hari. No offense, and no description needed kan?
Cutting edge bukanlah suatu pergerakan yang menginginkan pencitraan karena tampil beda. Tidak sesederhana itu. Cutting edge adalah apresiasi dari kebebasan berekspresi tanpa diboncengi ekspektasi berlebihan. Lihatlah bagaimana Kurt Cobain menjadi stress lalu bunuh diri karena Nirvana menjadi amat mainstream dan terkenal. Ini adalah contoh dari mereka yang bekerja karena idealismenya, bukannya demi uang dan popularitas semata.
Cara paling mudah mendeskripsikan perbedaan musik mainstream dengan budaya tandingnya ada pada Root, Character serta attitudenya. Sebagai budaya tanding, maka sudah tentu pihak cutting edge adalah opposite dari mainstream. Akar musiknya, karakter dari idealismenya serta perilaku individu mencerminkan perbedaan paham yang mencolok sekali. Maka jelaslah, bagaimanapun anda membesarkan band anda dengan etos Do It Yourself atau secara swadaya, jika pola pikir anda sangat mainstream sekali dan menghasilkan sesuatu yang mainstream pula, saya rasa anda tahu anda berada di pihak yang mana.
Terima Kasih. Semoga Bermanfaat.
Cutting edge bukanlah suatu pergerakan yang menginginkan pencitraan karena tampil beda. Tidak sesederhana itu. Cutting edge adalah apresiasi dari kebebasan berekspresi tanpa diboncengi ekspektasi berlebihan. Lihatlah bagaimana Kurt Cobain menjadi stress lalu bunuh diri karena Nirvana menjadi amat mainstream dan terkenal. Ini adalah contoh dari mereka yang bekerja karena idealismenya, bukannya demi uang dan popularitas semata.
Cara paling mudah mendeskripsikan perbedaan musik mainstream dengan budaya tandingnya ada pada Root, Character serta attitudenya. Sebagai budaya tanding, maka sudah tentu pihak cutting edge adalah opposite dari mainstream. Akar musiknya, karakter dari idealismenya serta perilaku individu mencerminkan perbedaan paham yang mencolok sekali. Maka jelaslah, bagaimanapun anda membesarkan band anda dengan etos Do It Yourself atau secara swadaya, jika pola pikir anda sangat mainstream sekali dan menghasilkan sesuatu yang mainstream pula, saya rasa anda tahu anda berada di pihak yang mana.
Terima Kasih. Semoga Bermanfaat.


Komentar
Posting Komentar