Di Balik Layar Genta Nirwana
Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah ke berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru Gamelan Jazz, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pergelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta dan Solo merupakan tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah kita bisa menikmati versi aslinya.
Namun di Kabupaten Batang, kabupaten yang letaknya bersebelahan dengan Kota Pekalongan ini memiliki salah satu kelompok musik yang mengatas namakan Genta Nirwana. Kelompok ini mulanya diprakarsai oleh M. Rizkie Hardanto di tahun 2013, yang mengusung musik-musik ethnic yang ada di Indonesia untuk diaplikasikan secara bersamaan. Nama Genta Nirwana sendiri memiliki arti "Bunyi-bunyian dari Surga". Berbagai pertunjukan seni dalam kota maupun luar kota telah mereka ikuti, menjadi peserta maupun menjadi tamu. Di era-era tersebut, Genta Nirwana pernah mengkolaborasikan dengan berbagai kesenian di luar seni musik itu sendiri, seperti seni teater, seni tari, dan seni puisi. Event-event yang pernah diikuti oleh Genta Nirwana dengan posisi sebagai pengisi acara, seperti "Pameran Seni Rupa" di Museum Ronggowarsito Semarang, "Anggaran Fest 2016" di Batang, "Ceremony HUT Kabupaten Batang", "HUT Palang Merah Indonesia", "Ceremony Batang Expo", dan masih banyak lagi. Mereka memberanikan diri untuk mampu mengkolaborasikannya tanpa kemampuan yang ada di dalam bidang seni tersebut. Hal ini menjadikan mereka semakin giat untuk mendalami bidang ini untuk memajukan Genta Nirwana untuk menjadi lebih baik lagi dengan kesederhanaan kemampuan yang dimiliki.
Kabupaten Batang memang bukanlah kota budaya, namun hal ini bukan berarti di dalamnya tidak memiliki masyarakat yang bergerak di bidang kesenian dan kebudayaan lokal. Bisa dikatakan musik di Batang dari tahun ke tahun akan semakin kaya, karena belakangan ini berbagai bentuk pertunjukan musik yang lalu lalang. Terasakustik, Pageblug Njero Lemah, Batang Grunge Alive, Kaum Miskin Kota, Story of The Years, Bumi Hitam, D'Hart Studio Gigs, dan masih banyak lagi yang menarik di Batang untuk musik gigsnya, maka dari itu sinilah main-main ke Batang, siapa tau jodoh. LOL. Melalui acara-acara tersebut, musisi Batang telah mampu menampilkan karya-karya garapan maupun karya adopsi yang bersumber dari kekayaan musik di dunia. Begitu pun Genta Nirwana yang fokus mengaplikasikan karya-karyanya dengan memadukan berbagai ragam instrumen-instrumen musik, dari musik tradisi hingga modern.
Dalam pemilihan konsep karya dari Genta Nirwana sangatlah sulit, mengingat sudah banyak musik yang itu-itu saja di kancah musik lokal di Batang, dan susahnya memadukan selera musikal dari masing-masing individu personel Genta Nirwana, yang memang mereka berasal dari musik-musik modern. Bagaimana caranya sehingga mereka memiliki kemauan untuk mencintai musik yang sebelumnya memang tidak mereka gandrungi? Musik memang subyektif. Sangat individual sifatnya. Urusan selera musik pun juga sangat personal. Dalam musik industri, selera bisa dikelola secara massif. Satu lagu bisa digilai oleh ratusan juta orang dalam sekejap. Tetapi, apakah kualitas musik mempengaruhi hal ini? Ataukah kita hanya takabur dengan menu-menu bunyi yang terus menerus didentumkan di telinga, sehingga kalau boleh sedikit dianalisis, selera itu sebenarnya bentukan, bukan murni dari dalam. Jika musik memang benar-benar subyektif, lalu selera itu sendiri datang dari mana? Apakah murni dari dalam diri tanpa pengaruh apapun, tanpa pengaruh lingkungan, doktrin-doktrin dosen, saran-saran teman, televisi, radio, dan seterusnya. Jadi sulit kalau kita menyamakan selera dengan parameter, dengan ukuran-ukuran yang belum jelas keberadaannya. Jika kita lahir dan beranjak besar, lalu dewasa tanpa pernah sekalipun mendengarkan musik, apakah selera bisa muncul begitu saja? Menjadi semakin sulit kan? Memang sulit jika tidak kita paksa dengan hati nurani masing-masing individu. Begitulah cara kami dalam menyamakan selera musik untuk menghidupi Genta Nirwana.
Perpaduan gamelan, instrumen tradisi, dan band lah yang akhirnya disepakati untuk memadukan selera masing-masing personel untuk menciptakan sebuah seni pertunjukan yang baru dan lepas dari fenomena tren, hits, dan lain sebagainya. Karena sudah jelas pada hakikatnya, musik adalah bukan fashion atau ketampanan-kecantikan yang dikonstruksi dan dimediasikan lewat tontonan. Musik adalah bunyi yang didengar, bukan dilihat dan dikagumi, melainkan didengar dan dikhayati. Bukan pula histeria yang bodoh tanpa makna. Musik adalah musik, bukan tren yang hanya hidup di saat-saat tertentu saja, bukan kesementaraan. Musik adalah keabadian selamanya, seperti cita-cita dua sejoli, haha. Maka, keoptimisan dan kepercayaan diri masing-masing personal di Genta Nirwana adalah bekal utama untuk bisa makin berwawasan, bukan hanya mengagungkan kelincahan teknik setinggi langit tanpa dasar-dasar sejarah dan falsafah yang jelas sebagai masyarakat seni.
Jika dilihat dari latar belakang masing-masing personal, Genta Nirwana dihidupi oleh mereka individu-individu yang sebelumnya berada di pergerakan musik Barat, contohnya saja pergerakan musik grunge, hardcore, pop, metal, dan pop punk. Dengan bergabungnya mereka di satu kelompok baru dan berbasiskan musik baru dan juga baru di dalam pengalaman musiknya. Mereka mampu memaksakan selera musiknya untuk menggeluti pengalaman baru dengan suasana baru, laras-laras/nada-nada yang sebelumnya jarang sekali mereka perdengarkan ataupun dipermainkan. Barangkali tidak ada bentuk kultural yang demikian merasuki segala medan kegiatan manusia yang lebih dari musik. Seringkali tanpa terasa, musik tersebut menyulusup, membentuk, bahkan mengendalikan perilaku manusia, nyaris di segala bidang kehidupannya. Sejak bangun tidur pagi hingga tidur kembali di malam hari, musik menyertai kita dalam segala bentuk yang sering tidak kita sadari. Musik adalah sesuatu yang terpintal dalam pengalaman. Maka pengalaman juga merupakan pintu masuk yang vital untuk memahami fenomena musik.
Dalam pemilihan garap musiknya, Genta Nirwana memilih membawakan lagu-lagu diatonis Barat maupun Lokal Indonesia, yang dipadukan dengan pengadopsian musik/karya yang sudah ada sebelumnya ke dalam permainan gamelan pelog, instrumen etnik, dan instrumen band dengan bentuk yang baru agar tercipta kesegaran karya yang biasa menjadi sesuatu yang baru dan menjadi sedikit luar biasa. Berikutnya akan dijelaskan mengenai dasar-dasar konsepsi dalam garap musik Genta Nirwana, sebagai berikut.
Genta Nirwana memandang konsepsi dasar sebuah musik yang diusungnya dari segi dimensi sosial dari musik, pada gilirannya menunjuk korelasi misterius dan menarik antara bangunan musik tertentu dengan latar sosial budaya, bahkan dengan latar alamnya. Sebagai contoh Musik Cianjuran dari masyarakat Sunda secara aneh seperti berkorelasi asosiatif dengan dimensi batin orang sunda yang selalu penuh syukur, terbuka dan ringan, melayang, menunggangi angin, menyusuri sawah, dan mendaki bukit-bukit. Jika pemilihan instrumentasi di dalam Genta Nirwana saat ini gamelan, alasannya karena gamelan mampu membawa imajinasi asosiatif seperti gema dari ketenangan batin dunia jawa, ketenangan yang menyembunyikan berlapis-lapis nuansa rasa penuh rahasia, tetapi juga menunjukkan ketundukan yang tentram dalam struktur masyarakat hierarkis aristokratis. Bukan kebetulan bila musik Hawaiian juga menyarankan imaji lambaian pohon kelapa, angin, dan pantai. Pendalaman mengenai kebudayaanlah yang selalu dan masih dipelajari dari individu-individu yang bersangkutan di dalam kelompok Genta Nirwana ini, sebagai cara untuk memahami dirinya dan posisi mereka dalam alam semesta. Maka pengalaman di dalam kelompok inilah individu yang berbeda ikut memahami beragam cara menghayati diri dalam dunianya yang khas melalui gamelan.
Melalui apresiasi dan kegiatan berlatih yang pernah berlangsung terhadap aneka jenis musik tersebut, pengalaman masing-masing individu di dalam Genta Nirwana diperluas, ditarik ke wilayah seni tradisi, ke arah berbagai kemungkinan imajinatif cara pandang dan penghayatan baru atas realitas, dan akhirnya dihadapkan pada pengalaman batin. Genta Nirwana merupakan sebagai sarana teman-teman personel genta untuk masuk ke dalam horizon lebar pengalaman batin manusia yang luas, beragam, dan tidak kaku di dalam satu jenis musik saja. Dan dari sanalah mereka mampu menyadarkan pada posisi di dalam dunianya sendiri.
*Ya sudah berhubung saya lelah, jadi begitu saja ya saya memperkosa ideologi yang ada di dalam Genta Nirwana. Semoga bisa menjadi salah satu dokumen tertulis mengenai Genta Nirwana. Terima Kasih
Genta Nirwana Official
Contact Person :
M. Rizkie Hardanto (081548775892)
Dadang Dwi Septiyan (085747722731)


Komentar
Posting Komentar