Antara Penggemar dan Industri Musik Kreatif


Banyak band bernama besar di Indonesia, kini mengalami carut marut dalam hidupnya. Reputasi sebagai artis mainstream yang menjual album jutaan keping, RBT diunduh hingga jutaan kali, memiliki segudang hits, penggemar tersebar dari Sabang sampai Merauke ternyata tidak mampu menyelamatkan karir musik mereka secara berkepanjangan di masa depan. Tidak heran jika setelah tiga atau empat album dihasilkan, nama besar mereka di beberapa tahun lalu hanya tinggal kenangan. Gone with the wind.

Sudah banyak contoh kasusnya jika ingin disebutkan namanya. Tapi sepertinya tidak perlu, cukup tau saja lah ya. Sosok-sosok artis atau band yang sangat terkenal beberapa tahun lalu, karena hampir setiap hari mendominasi layar kaca kita, sekarang ini hanya tinggal seonggok nama besar saja.

Musik baru mereka tak lagi ditunggu, event organizer sudah jarang yang memanggil mereka sebagai talent nya. Sementara kehidupan harus terus berjalan dan membutuhkan ongkos tidak sedikit. Benar kata orang tua, dapur harus tetap ngebul. Tapi darimana datangnya asap jika tiada api yang berkobar?

Sudah lama kita ketahui bahwa sistem dan mekanisme pembayaran royalti musik bagi artis/pencipta lagu di Indonesia tidak pernah beres, bahkan hingga era digital yang serba transparan dan dukungan legal dari UU Hak Cipta dan UU ITE telah menjaminnya. Belum juga dengan masalah pembajakan musik yang masih menjadi lingkaran Setan, malah semakin menghebat dan naik derajatnya berhubung kini pembajakan online (illegal downloading) semakin menjadi tren di Tanah Air. Saya ingin berpesan saja dengan teman-teman kolektor rilisan fisik dan konsumen rilisan fisik, jika kalian sudah membeli rilisan fisik, jagalah baik-baik isi di dalamnya. Jika kalian memang ingin memperbanyak dalam artian rilisan yang asli ingin kalian simpan dan didokumentasikan, lalu yang kalian gandakan hanya ingin digunakan sebagai media yang diperdengarkan saja, nah yang digandakan tersebut janganlah kalian bagikan ke teman-teman anda, karena itu akan berdampak negatif. Negatif di sini dalam artian, akan tersebar ke media online, akan menyebar ke individu-individu yang lebih banyak lagi. Dibilang pelit? Nggak masalah, karena menurut saya ini salah satu perbuatan yang positif dan tidak berdosa.

Lalu bagaimana artis/pencipta lagu bertahan mendapatkan penghasilan dari profesi mereka sementara CD mereka tidak lagi laku bahkan sudah dibajak, sementara tawaran manggung tak kunjung datang?

Banyak artis atau personel band kemudian terpaksa hijrah dan berbisnis di luar musik agar tetap mendapat penghasilan. Banyak pula label rekaman yang kemudian gulung tikar. Mereka merasa berbisnis musik semakin sulit di Indonesia. Pendengar musik semakin banyak namun pembeli musik semakin sedikit, itulah kenyataan pahitnya.

Beberapa penyebab kegagalan band Indonesia dalam mempertahankan karir musik mereka hingga panjang umur di industri musik adalah karena kegagalan mereka dalam membangun basis penggemar dan tidak mengonsep band mereka sebagai brand sedari awal.

Pada umumnya mereka sudah cukup puas dan terlena dengan kesuksesan hari ini sehingga sulit untuk berpikir bahkan terlalu malas untuk menyiapkan rencana pengembangan karir di masa depan.

Saya sering memerhatikan band-band mainstream di Indonesia, pada umumnya memang dibesarkan oleh peran label rekaman mereka, bukan besar karena dukungan fans atau penggemar. Beberapa bahkan sengaja direkayasa eksistensinya oleh label rekaman dengan diguyur marketing budget yang sangat besar. Single mereka diputar oleh ratusan stasiun radio di seluruh Indonesia, tampil playback/lip sync di berbagai acara musik pagi hari di layar kaca, hingga manggung di berbagai konser gratisan dalam rangka promosi sebauh produk. Akhirnya mereka memang menjadi artis bernama besar namun sayangnya tidak mengakar, karena terlenanya dengan kesuksesan hari ini mereka seperti melupakan esensi utama membangun karir musik dan lebih sibuk wara-wiri di infotainment. Mereka malas mengembangkan fanbase dan lupa mengubah band mereka menjadi sebuah brand yang menguntungkan. Pada akhirnya semakin sering kita mendengarkan kisah band-band maisntream yang karirnya membusuk sebelum waktunya tadi.

Bisa dikatakan sangat sedikit artis/band di Indonesia yang serius untuk mengembangkan fanbase. Padahal mereka yang berniat untuk menggarapnya sejak awal akan menikmati hasilnya kemudian. Pernahkah Anda memerhatikan Indonesia kita jarang memiliki penggemar musik yang loyal dan berdedikasi? Di luar Slankers, Oi (fans Iwan Fals), dan Kamtis (fans Endank Soekamti), sekarang ini kita hanya mengenal fans sebuah band ya juga fans dari band lainnya. Jadi tidak ada yang konsisten dengan siapa yang mereka idolakan. Jadi jika ia adalah penggemar Samsons maka bisa jadi ia juga penggemar Nidji, Kerispatih, bahkan Setia Band. Fans musik di Indonesia cenderung ngefans dengan lagunya. Bahkan mereka hanya loyal kepada single yang hits saja. Jika sebuah lagu enak dan hits maka mereka akan ngefans, jika ada lagu baru yang ngehits mereka akan segera pula berpindah.

Tidak ada lagi pengalaman mendengarkan dan mengapresiasi musik dengan cara membeli rilisan fisik. Pengalaman memandangi sampul album yang indah, membaca lirik yang menggerak-gerikkan, mengapresiasi lagu sendirian dengan CD player di kamar sembari mengingat nama-nama orang dalam daftar terima kasih artis/band menjadi aktivitas yang langka sekarang. Begitukah kalian?

Tidak perlu lagi menabung untuk membeli CD atau kaset karena semuanya sudah tersedia dengan mudahnya di dunia maya. Parahnya lagi, semakin sedikit yang membeli rilisan fisik dan lebih senang mengunduh single secara ilegal karena dianggap gratis dan halal. Ironisnya, banyak fans yang belakangan ini tanpa sungkan-sungkan bahkan meminta link download album yang ilegal kepada artisnya via Instagram, Twitter, atau Facebook. Kamu bercanda ya? LOL Jangan salahkan juga jika mereka tidak paham mengenai perihal HKI (Hak Karya Intelektual) atau Hak Cipta karena memang sosialisasi tmengenai hal tersebut sangat minim dari pemerintah atau kalangan industri rekaman sendiri. Alhasil para penggemar musik ini memang tidak pernah diedukasi sejak dini untuk menghargai hasil karya cipta artis/band dengan cara membeli album atau mengunduh secara legal musik mereka.

Sepertinya ini merupakan imbas dari industri musik kita yang suka serba instan dan lebih mementingkan meraup keuntungan sesegera mungkin dibanding berinvestasi untuk membangun fanbase artis yang loyal dan bersahaja. Kondisi ini semakin diperparah dengan eksposur yang salah dari pemberitaan artis-artis di infotainment yang lebih senang mengungkap gosip dan skandal kehidupan pribadi bukan membahas karya dan prestasi dari artis tersebut.

Sementara itu, di saat menikmati konser dari artis idola, ternyata rata-rata fans juga masih jarang yang rela masuk dengan membayar tiket dan setia menunggu jebolan. Lucunya untuk patungan membeli minuman keras biasanya sangat cepat dan ketika sampai di dalam venue seringkali bukannya menikmati konser melainkan terlibat tawuran dengan sesama penonton atau fans juga. Pada umumnya para penonton konser artis-artis lokal kita hingga kini masih disubsidi oleh sponsor-sponsor komersial seperti rokok, telekomunikasi selular dan sebagainya. Tidak heran jika sejak puluhan tahun yang lalu hingga sekarang, harga tiket konser artis-artis Indonesia yang dilakukan di areal terbuka seperti tidak pernah mengalami kenaikan yang berarti.

Bayangkan, untuk menyaksikan sebuah festival musik dengan line-up artis-artis terkemuka sebesar Soundrenaline saja mereka cukup merogoh kantong Rp 25.000 saja. Bandingkan dengan tiket festival Big Day Out di Australia yang angkanya bisa mencapai Rp 1.500.000 per harinya. Berani? Starting for Local Event lah!

Idealnya seorang penggemar adalah aset yang sangat berharga bagi artis/band nya. Tidak ada band yang besar dan kemudian menjadi legendaris di dunia hanya karena dukungan label rekaman, melainkan penggemar. Pada dasarnya penggemar atau fans akan selalu membeli rilisan-rilisan fisik, merchandise, bahkan tiket konser sebagai bentuk dukungan nyata dan timbal balik mereka kepada artis idola nya yang telah ikut menghibur dan membahagiakan kehidupan sehari-hari dengan musik dan lagu yang mereka ciptakan. Anda kira hidup ini gratis? kamu kencing saja bayar, air bayar, listrik bayar, dan kebahagiaan juga perlu bayar. Bayar kepada yang sudah membahagiakanmu. Anda berkarya juga ingin dihargai dan diapresiasi kan? Refleksikanlah hidupmu itu kepada yang lain! Inilah hukum timbal balik dan saling menguntungkan.

Manajemen artis seharusnya bisa lebih mengeksplorasi ide agar tercipta fanbase yang loyal terhadap artis mereka. Tidak perlu mahal dan repot pula mengelolanya. Hal-hal sederhana dan di jaman sekarang sudah menjadi standar yaitu membuka akun di berbagai media sosial dan jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, Reverbnation, hingga blog. Namun sebelum semua itu dirambah ada baiknya juga kita meneliti apakah situs resmi artis kita masih terupdate informasi-informasi terbaru artis secara rutin dan periodik?
Dengan tren anjloknya angka penjualan album rilisan fisik berupa CD, kaset, maupun DVD seperti terjadi sejak tahun terakhir ini serta anjloknya angka pengunduh RBT, sudah semestinya band dan manajemen mulai menerapkan strategi pemasaran baru dengan mengubah band mereka menjadi sebuah brand yang memiliki nilai jual tak hanya di musik namun juga sebuah gaya hidup yang kemudian menginspirasi penggemar.

Formulanya sederhana saja, apapun yang digemari, dikenakan dan dikonsumsi oleh artis idola di kehidupan sehari-hari biasanya akan diikuti pula oleh para penggemarnya. Apalagi jika kemudian gaya hidup artis/band tersebut mampu meningkatkan status dan memberikan nilai lebih kepada para penggemarnya, dampak komersial yang terjadi diprediksi akan berlipat ganda dan menjadi sumber pendapatan yang menggiurkan. Selain menjadi sumber penghasilan baru di kala penjualan rilisan fisik musik menurun drastis, band mereka pun berpotensi menjadi sebuah brand yang memiliki pengikut setia, jika mereka berniat total dan serius dalam mengemasnya.

Strategi pemasaran seperti ini telah lazim berlaku di industri musik dunia. Tidak heran jika sebuah band rock legendaris "KISS" yang memiliki aneka ragam merchandise mulai dari kondom, minuman ringan, action figure, hingga restoran. Ini merupakan contoh strategi pemasaran yang tidak dimiliki oleh banyak band/artis dunia.

Sayangnya, banyak band-band mainstream di Indonesia yang menerapkan strategi menjual brand band mereka ke pasaran ternyata gagal total. Mengapa? karena band-band tersebut tidak mengakar alias tidak didukung oleh fanbase yang besar, solid, dan loyal. Jangan harap ada sebuah brand produk tertentu akan tertarik bekerjasama dengan sebuah band jika mereka tidak memiliki penggemar besar.
Kegagalan ini terjadi biasanya karena band tidak memiliki brand image yang bagus di mata para penikmat musik. Bayangkan band-band yang berkarya tidak senonoh dari segi penampilan dan karyanya apakah mereka memberikan nilai lebih yang cool bagi para penggemarnya? Para penggemar tentu akan merasa sangat dihargai jika band yang mereka idolakan mampu meningkatkan harkat dan derajat mereka, minimal di lingkaran pergaulan mereka sendiri. Selain itu band tersebut akan gagal menerapkan strategi ini jika tidak pernah berinteraksi dengan fans, entah itu di dunia maya atau di dunia nyata. Kalaupun ada, itu hanya sebatas basa-basi semata bukan sebuah interaksi yang tulus.

Sementara band-band sendiri tampaknya lebih menggemari dan antusias mendengar keinginan produser atau bos label rekaman mereka ketimbang mendengar opini dari fans. Alhasil, fans kemudian merasa diasingkan oleh lagu-lagu yang diciptakan oleh band dan tidak menjadi relate dengan karya-karya mereka karena merasa tidak pernah dilibatkan untuk mendukung artis idola mereka dalam aktivitas-aktivitas kreatif tersebut. Uniknya kegagalan menerapkan strategi band sebagai brand ini sebagian terjadi justru pada rtis-artis mainstream di Indonesia saja. Jarang sekali kita mendengar kabar merchandise asli band-band mainstream nasional ludes atau diburu oleh fansnya. Banyak pula band mainstream yang belum percaya diri untuk menggelar konser tunggal bandnya karena selama ini terbiasa manggung di festival yang menampilkan banyak band dalam satu panggung. Mereka khawatir jika menggelar konser tunggal, para penggemar mereka tidak mampu atau tidak tertarik untuk membeli tiket karena selama ini selalu dimanja oleh konser-konser gratisan.

Lucunya lagi, rilisan fisik resmi seperti CD, kaset, hingga DVD pun nyaris tidak terbeli oleh para penggemarnya. Lalu apakah band yang popularitasnya nasional seperti itu layak untuk menerapkan strategi band sebagai brand? Menurut saya tidak layak. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh band tersebut jika ingin sukses menjadikan band mereka sebagai brand.

Beberapa band/artis mainstream yang menurut saya sukses menerapkan konsep ini antara lain adalah Iwan Fals, Slank, GIGI, Sherina, Raisa hingga Agnes Monica. Di luar musikalitas mereka, masing-masing artis ini memiliki daya pesona sendiri sehingga kerap dipilih untuk menjadi brand ambassador berbagai macam produk, selain tentunya juga didukung oleh jutaan penggemar setia.

Saya justru melihat potensi untuk menjadikan band sebagai brand itu terbuka lebar di kalangan band-band independent dan unsigned Tanah air. Contohnya saja Morfem, White Shoes and The Couples Compeny, The Upstairs, Silampukau, Billfold, The S.I.G.I.T, Kelompok Penerbang Roket dan lain sebagainya. Mereka sukses menjual konsep band as brand ini karena berhasil mewujudkan musik sebagai sebuah gaya hidup yang keren dan trendi di kalangan para penggemarnya. Siapa sangka, band-band di atas pada umumnya mampu menghimpun fanbase paling sedikit 500.000 hingga 2,5 juta penggemar, bahkan lebih! Jelas angka ini sangat besar sekaligus menjadi pasar tersendiri bagi aneka merchandise yang mereka jual. 

Para penggemar band-band indie ini secara sadar telah mendukung sebuah gaya hidup subkultur musik yang cool dan mereka adalah pemegang saham terbesar dari kesuksesan band-band indie tadi dalam menciptakan brand yang komersial dan mampu menggantikan penghasilan dari penjualan rilisan fisik. Menjadi kreatif dan menomorsatukan keinginan fans dalam menerapkan strategi band sebagai brand adalah kunci utama keberhasilan band-band indie yang sudah disebut di atas tersebut.

Mungkin sampai di sini tulisan saya mengenai seberapa pentingnya penggemar bagi sebuah band/artis dan seberapa pentingkah mengkonsep sebuah band/artis dalam memporak porandakan kultur musik di Indonesia dalam perihal industri musik kreatif. Terima Kasih, Selamat Membaca!

Komentar

Postingan Populer