Independen Label dan Independen Band
Hiruk-pikuknya industri rekaman besar pasti selalu menyisakan ruang bagi para pelaku bisnis musik gurem yang tergabung di dalam independen label. Ketika Major Label berlomba-lomba mempromosikan musik yang instan dan masif, posisi Indie Label bagaikan oase penyegar di padang gurun yang tandus. Mereka adalah benteng kreativitas yang "menjaga" kualitas musikal negara ini di masa depan, karena dibangun atas dasar passion dan semangat untuk mempromosikan genre musik tertentu, otomatis ceruk pasar yang dikuasai pun terbatas.
Jika di Amerika dan Eropa indie label berjumlah puluhan ribu dan menguasai puluhan persen pasar musik global, sayangnya hingga kini di Indonesia tidak begitu banyak indie label yang produktif merilis album dan berbisnis dengan baik dan benar. Sebut saja di antaranya adalah Aksara Records, FFWD, Rottrevore hingga de'Majors.
Label yang terakhir disebut dibentuk pada tahun 2001 oleh David Karto. Awalnya, de'Majors merupakan toko yang menjual piringan hitam bagi DJ dan kolektor musik, khususnya Jazz. David sendiri awalnya sempat berkiprah pula sebagai DJ. Baru pada tahun 2004 ia nekat mendistribusikan rilisan pertamanya yang merupakan album debut eks-vokalis The Groove, Rieka Roeslan. Hingga kini de'Majors telah merilis dan mendistribusikan album-album dari artis-artis indie label terkemuka seperti Parkdrive, Everybody Loves Irene, Arti Dewi, Sandrini, Monday Michiru, Efek Rumah Kaca hingga kini.
Label de'Majors sebetulnya berjalan sesuai dengan suasana industri yang ada saat ini, namun indie label seperti diketahui, memiliki pasar yang lebih loyal dan mereka lebih menghargai produk yang orisinal dibanding bajakan. Bahkan tidak hanya rekaman orisinalnya saja yang mereka beli, tetapi juga merchandise yang original.
Pasar musik independen yang loyal seperti ini tidak begitu besar share nya di Indonesia. Ini karena indie label pasarnya kerap terbentuk atas dukungan komunitas-komunitas musik dan juga laman social networking, seperti Soundcloud. Quantity selling tidak akan bisa puluhan ribu copies atau one million copies seperti kebanyakan major label. Mampu menembus angka penjualan 5.000 atau 6.000 copies saja sudah merupakan hasil terbaik di dalam lingkungan indie label.
Walau kondisi pasar lokal sedang sakit keras namun penjualan fisikal album-album rilisan dari indie label terus mengalami peningkatan walau tidak dapat disamakan dengan major label. Ini dikarenakan pasar musik baru seperti indie terus bertumbuh seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi. Tren penjualan independen sampai sejauh ini masih sangat bagus prestasinya.
Di masa depan karena percepatan teknologi, dapat diprediksi tidak akan ada satu tren musik yang mendominasi pasar global, semuanya akan menjurus ke genre-genre musik yang spesifik dan penggemar akan membeli musik yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka. Hanya artis-artis yang memiliki fanbase loyal nantinya yang bakal bertahan. (rujukan, baca tulisan edisi sebelumnya). Kondisi ini jelas akan sangat menguntungkan bagi eksistensi indie label di masa mendatang.
Dengan kondisi keterbatasan kemewahan dan budget promosi indie label maupun indie band harus berpikir dengan cermat dalam menerapkan strategi dagang seperti apa nantinya. Masing-masing indie label maupun indie label harus punya sikap dan mampu memposisikan di mana, pasarnya di mana. Jangan teralu ngoyo harus menguasai pasar. Bisa sukses di daerah, kota, hingga provinsi saja menurut saya itu sudah capaian yang cukup.
Sumber : Putranto, Wendi. 2009. Rolling Stone: Music Biz. PT Bentang Pustaka: Yogyakarta.


Komentar
Posting Komentar