d'Hart Studio Gigs
Belakangan ini ada fenomena menarik di kancah musik independen, ada gairah baru tercipta melalui kehadiran banyaknya gigs kecil yang tersebar di berbagai tempat. Setelah beberapa tahun sebelumnya ada keluhan minimnya gigs yang ada, sekarang penggemar musik alternatif bisa mendapatkannya di mana saja. Tidak terbatas hanya di konser berskala besar ataupun tempat pertunjukan bagus, tapi juga di cafe, studio bahkan rumah.
Tanggal 1 Oktober 2016, sebuah gigs bertajuk d'Hart Studio Gigs-The Ultimate Grunge Rangers memasuki edisi yang kesekian kalinya. Namun untuk yang kali ini adalah special edition for grunge. Gigs yang diorganisir oleh d'Hart bersaudara ini memilih tempat yang tidak biasa, yaitu bekas studio musik kepunyaan mereka sendiri, dan sepertinya ke depannya akan kembali menjadi studio musik kembali. Keriuhan acara musik dibawa ke tempat paling personal, rumah dan wilayah sekitarnya. Memang gigs rumahan bukan sesuatu yang baru, sejarahnya pernah ada dan pernah saya baca. Namun gigs seperti ini tidak menutup kemungkinan turut melibatkan warga sekitar untuk berpartisipasi, terutama dengan berjualan makanan dan minuman. M. Rizkie Hardanto, salah satu penggerak di balik d'Hart Studio Gigs, yang sebagian rumahnya digunakan untuk gigs tersebut, menuturkan bahwa event ini merupakan salah satu event musik untuk mengguyubkan penggiat-penggiat musik di Batang khususnya yang kemarin ini yaitu penggiat musik grunge. Selain itu, event musik ini bermanfaat sebagai ajang silaturahim antar sesama pelaku musik, baik itu praktisinya ataupun apresiatornya. Maka acara musik pun tidak lagi soal bersenang-senang akan tetapi juga berfungsi sebagai sarana bersosial.
Enam band yang seharusnya tampil malam itu, The Caroline, Peanut Butter, Reckless, Not Dead Yet, Fuckgina, dan Something, namun hanya empat band yang tampil malam itu, dan kesemuanya larut dalam keintiman ruang kecil nan panas tersebut. Tingkat keasikan sebuah gigs tidak hanya bergantung pada venue, namun interaksi di dalam pelaksanaan gigs itu juga sangat bergantung sekali. Maka dari itu, studio gigs merupakan solusi yang tepat untuk menyatukan kedua komponen asik tersebut, venue dan interaksi.
d'Hart Studio Gigs muncul pertama kalinya sebagai kolektif senang-senang pada kisaran tahun 2009. Alasan terbentuknya sederhana, jengah dengan kondisi scene independen yang stagnan, band yang main itu-itu saja, dan antar lingkaran seperti tidak ada perpotongan sama sekali. Walaupun terkadang saat ini masih terdapat scene yang pelakunya itu-itu saja. Harap dimaklumi, karena dimungkinkan pada saat ada jadwal gigs, para pelakunya memiliki kesibukan masing-masing. Ok, kembali ke studio gigs. Studio gigs ini misinya adalah mempopulerkan kembali etos DIY (Do It Yourself) ke scene biar mereka yang selama ini kurang terekspos bisa menemukan jalannya ke stage pertunjukan musik.
Kendala tentu dirasakan, apalagi studio musik yang berlokasi di kediaman personal memang tidak dirancang sebagai sebuah pertunjukan musik. Akan tetapi kendala tersebut tidak terlalu berat, satu kekurangan yang dirasakan adalah tempat parkir dan halaman untuk teman-teman yang tidak kebagian tempat untuk masuk di dalam studio karena keterbatasan tempat.
Gairah anak muda tercermin di balik jawaban semua pentolan pengelola gigs independen tersebut, tetapi tentu saja di balik semua itu ada hal-hal yang harus dikorbankan, misalnya material. Akan tetapi di event eksklusif ini semoga tidak ada yang dirugikan pada pihak manapun. Keuntungan material bisa dibilang nyaris tidak ada, tetapi banyak sekali yang bisa diperoleh dari sebuah gigs selain sebagai sebuah tontonan-hiburan, yakni sebagai wadah untuk mendulang koneksi dan pengalaman. Banyak bermunculan proyek-proyek dan kolaborasi baru yang hadir karena obrolan-obrolan di dalam sebuah gigs. Singkatnya, buat saya Social Capital Gain dari sebuah gigs itu nilainya besar sekali. Jika ditanya kenapa saya pribadi ngerelain waktu, biaya bahkan uang untuk menghadiri sebuah gigs dan sebagainya, jawabannya simpel, karena saya suka musik dan saya ingin menikmati musik yang saya suka.
Oleh : Dadang Dwi Septiyan



Komentar
Posting Komentar