SELERA SENI
Mengapa banyak orang lebih getol menonton pertunjukan musik dangdut daripada musik jazz?
Pengalaman seni seseorang sebenarnya ditentukan oleh faktor pendidikan (pengetahuan), pengalaman, dan kepekaan. Seorang seniman yang tingkat pengetahuannya tinggi, yang pengalaman hidupnya luas dan beragam serta intens, yang kepekaannya tajam, bagai punya indera keenam. Dia tentu memiliki potensi pengalaman seni yang tinggi pula.
Yang disebut selera dalam seni sebenarnya bukanlah masalah berbedanya cara pandang seni atau aliran seni. Permasalahannya bukan terletak pada pemahaman aliran seninya, tetapi justru pada selera seni yang sebenarnya. Selera seni ini lebih menjurus kepada temperamen seseorang, baik seniman maupun penikmat seni. Temperamen ini tentu saja bukan ditentukan oleh pendidikan dan pengetahuan (yang dapat menentukan pemahaman aliran seni), tetapi oleh pengalaman hidup dan bakat bawaan. Seseorang yang memiliki pengalaman tertentu dalam hidupnya akan memiliki sikap tertentu pula dalam menghadapi hidupnya. Begitu juga bakat bawaan seseorang, inilah yang membentuknya bertemperamen tertentu pula. Temperamen inilah yang menentukan adanya selera seni.
Karya seni yang lebih disukai masing-masing individu adalah yang mengandung berbagai kualitas. Individu lebih menyukai kualitas tertentu dalam seni, tetapi tidak secara absolut menolak dan tidak menghargai kualitas yang lain. Dalam hal ini berlaku hukum "Selera tidak bisa diperdebatkan", karena masing-masing individu, baik seniman maupun penanggap seni memang memiliki selera yang berbeda-beda. Perbedaan selera ini disebabkan oleh perbedaan temperamen, dan perbedaan temperamen individual ini disebabkan oleh pengalaman hidup yang berbeda dan bakat bawaan yang berbeda pula. Ada yang berbakat motoris, ada yang berbeakat rasional, ada yang berbakat emosional.
Perbedaan temperamen ini tidak mengurangi seseorang untuk meningkatkan pengetahuan seninya sehingga mampu mengapresiasi berbagai aliran seni lain, mampu menghargai mutu seni lainnya. Selera seni yang jelek terdapat dalam sikap fanatisme yang bersikukuh pada rasionalisasi seni tertentu (cara pandang seni atau apa yang baginya disebut seni) ataupun pada temperamen tertentu. "Pokoknya, kalau bukan dangdut atau classic rock atau sejenisnya saya tidak suka", semua karya seni yang berada di luar seleranya dikatakan jelek dan bukan seni. LOL
Pemilik selera seni tertutup semacam ini pada dasarnya termasuk kategori kaum berselera seni buruk, meskipun sebenarnya mereka amat cerdas. Justru kecerdasan mereka inilah yang mengakibatkan tingginya pertimbangan rasionalitas mereka dalam seni. Kalau hanya perbedaan cara pandang seni, seharusnya mereka juga dapat mengambil nilai pengalaman seni dari cara pandang seni yang lain yang pernah ada. Kalau ini dilakukan, maka mereka termasuk punya selera seni yang baik.
Oleh : Dadang Dwi Septiyan



Komentar
Posting Komentar