MEMAHAMI ETNOMUSIKOLOGI



Etnomusikologi merupakan ilmu yang belum lama, kurang lebih seratus tahun yang lalu. Etno musikologi muncul di Jerman pada akhir abad XIX, akan tetapi ilmu ini berasal dari tradisi ilmu pengetahuan Barat atau Eropa. Setelah berkembang di Barat, etnomusikologi kemudian menyebar ke seluruh pelosok dunia, termasuk di dalamnya ke Indonesia. Dengan dasar pengetahuan etnomusikologi tersebut, masing-masing negara menemukan metodenya sendiri yang cocok dan kita harus melakukan hal tersebut. 

Pada mulanya ilmu ini tidak disebut etnomusikologi, namun disebut musik perbandingan (Erich van Hornbostel). Disebut demikian karena peneliti pada saat itu benar-benar membandingkan musik-musik yang ada di dunia. Menurut analisis para peneliti, pada saat itu selalu menggunakan teori musik Barat sehingga pengaruh ilmu musik Barat tidak dapat dielakkan. Hal ini membawa dampak sangat luas, misalnya karena mereka sudah terbiasa mendengar musik diatonik yang menggunakan 12 nada, maka mereka merasa aneh jika mendengar tangga nada slendro atau pelog dalam gamelan Jawa. Bagi mereka tangga nada atau laras gamelan Jawa itu salah. Namun, tidak semua peneliti berbuat demikian, terdapat peneliti yang berusaha menghindari pengaruh Barat tersebut. Salah satu contoh peneliti tersebut adalah Alexander John Ellis. Ellis meneliti akustik musik etnis tanpa menghiraukan kebudayaannya atau latar belakang musik tersebut. Ellis menggunakan ilmu alam untuk mengukur frekuensi nada-nada musik rakyat. Hasil penelitiannya populer pada saat itu. Selain itu masih terdapat satu metode penelitian folksong (lagu rakyat) yang muncul pada saat itu. Metode ini juga dihargai tinggi. Tokohnya adalah Kodaly dan Bartok dari Hongaria. Kebetulan mereka juga komposer musik Barat yang terkenal, oleh karena itu mereka tidak hanya membuat transkripsi lagu rakyat saja, akan tetapi juga memasukkan unsur musik rakyat ke dalam karyanya.

Berbeda lagi dengan musik dalam pandangan peneliti antropolog. Dalam pandangan peneliti antroplog, musik dianggap sebagai bagian dari kebudayaan, musik diteliti dalam konteks kebudayaan. Ilmu ini ini dipopulerkan oleh Alan P. Merriam, Bruno Nettle, dan Mantle Hood. Peneliti antropolog memasukkan musik ke dalam etnografi yang sebelumnya telah dibuat. Kemudian para etnomusikolog membuat etnografi akustik atau etnografi musik (suara), yang dalam antropologi belum ada. Hal ini berarti peneliti mendekati musik dengan cara berbeda dengan cara pendekatan musikologi yang menekankan penelitiannya pada musik Barat, misalnya penelitian di bidang sejarah musik Barat, Estetika musik Barat, dan lain sebagainya.

Apakah kita perlu belajar teori musik Barat apabila belajar etnomusikologi? Tidak, kita tidak perlu belajar banyak tentang musikologi ketika belajar etnomusikologi, karena musikologi mempunyai wilayah yang luas dan menggunakan metode yang berbeda dengan metode etnomusikologi. Metode dalam musikologi itu misalnya, metode sejarah, yaitu meneliti notasi-notasi musik dari kualitas kertas dan tulisannya. Musikolog sering kali meneliti kualitas kertas dan tinta yang digunakan pencipta musik pada saat itu untuk memperkirakan kapan musik itu dicipta. Metodenya sangat teliti dan kita harus menghargainya, namun kita harus menyadari bahwa metode etnomusikologi jauh berbeda dengan metode musikologi.

Kesimpulannya, etnomusikologi pada mulanya berupa kegiatan meneliti nada-nada dan alat-alat musik berbagai bangsa, kemudian berkembang menjadi mencari hubungan antara musik dengan manusia dalam kebudayaannya dengan menggunakan hasil penelitian antropolog selama kurang lebih seratus tahun ini. Proses ini disebut perubahan perspektif, yaitu perubahan dari etnosentrisme menjadi etnorelativisme. Sedikit banyak etnomusikologi telah mengangkat ideologi penting dalam musik.








Komentar

Postingan Populer