MUSIK KLASIK MEMILIKI PENGARUH POSITIF



Musik klasik memiliki pengaruh positif bagi perkembangan IQ dan emotional quotient (EQ) balita. Musik klasik juga bisa menekan angka kelahiran bayi prematur. Menurut dr. Azen Sein seorang spesialis kandungan dari RS Pondok Indah, Jakarta, hasil penelitian di Jerman, Polandia, dan AS menunjukkan adanya pengaruh musik terhadap perkembangan janin. Pakar musik menyebutkan musik klasik yang disebut medical resonance therapy musik (MRT-M) terbukti mempunyai pengaruh positif terhadap anak yang akan lahir nantinya dan juga ibunya.

Ditambahkan pula bahwa pengobatan dengan musik sebenarnya telah dikenal sejak 550 SM, dikembangkan oleh Pythagoras. Konsep musik Pythagorean diterapkan secara bersama oleh pakar musik Peter Huebner dan komposer musik klasik Jerman dalam bentuk MRT-M membawa dampak positif pada wanita hamil baik yang sehat maupun yang memiliki gangguan. Salah satu indikator pengaruh efek pengobatan musik adalah penurunan angka kelahiran prematur. Selain itu, dapat juga meringankan kasus-kasus keracunan kehamilan sampai efek anti stres sewaktu menjalani bedah caesar.

Jadi, dengan MRT-M ini proses melahirkan menjadi lebih alami, mengurangi trauma, dan ibu merasa lebih tenang. Menurut dr. Karel Staa seorang spesialis anak dari RS Pondok Indah, Jakarta, sejak usia kandungan kurang lebih 30 minggu jaringan saraf dan alat pendengaran janin mulai berfungsi baik. Sehingga dapat menerima rangsangan dari luar kandungan  si ibu dengan kekuatan frekuensi tertentu. Misalnya, musik yang mengeluarkan suatu gelombang kekuatan energi dapat mengalir melalui berbagai media tubuh manusia dengan perantara saraf yang menuju otak.

Karel menjelaskan, pada era 1980-an seorang psikolog Alfred Tomatis meneliti berbagai jenis suara dan nada musik. Hasilnya, penerimaan terbaik yang dapat diberikan kepada para bayi adalah suara ibu dan jenis musik Mozart. Penelitian tersebut dilakukan dengan alat-alat kedokteran cukup canggih yaitu Magnetic Resonance Imaging (MRI) dan Positron Emission Tomography (PET) Scan sehingga akurasinya dapat dipertanggungjawabkan.

Tetapi mengenai hal tersebut, Azen berbeda pendapat dengan Karel. Azen mengatakan sensasi yang ditimbulkan dari musik jelas mempengaruhi hormon ibu dan emosi ke anak. Penelitian Pieter Hobner memang memakai musik klasik Jerman dan kebetulan Mozart dan Beethoven. Jadi, kita tidak menyebutkan secara spesifik pemusiknya dan memang jenis musik lain belum ada penelitiannya. 

Faktor nutrisi juga harus memadai untuk anak usia di bawah tiga tahun. Sedangkan untuk anak di atas usia tiga tahun lebih kepada faktor psikologis. Misalnya, bagaimana kedekatan orang tua dengan anak sehingga mereka mengenal anaknya, tahu kesukaan anak, dan tidak boleh memaksa. Di bawah usia tiga tahun pengaruh musik klasik sangat dominan terhadap perkembangan kecerdasan anak. Karena itu, sebaiknya sejak bayi di dalam kandungan sampai usia tiga tahun kita perdengarkan atau kita berikan musik klasik, khususnya Mozart, dan suara ibu si anak.

Dua pakar medis dari Indonesia di atas memiliki pandangan yang sedikit berbeda dengan kecenderungan rasionalitas yang berbeda pula. Informasi yang diberikan pun masih sejauh "menurut" yang kita sendiri juga tidak jelas keabsahan hasil yang sesungguhnya . Penjelasan seperti di atas termasuk ikut meramaikan perkembangan pengetahuan akan manfaat musik. Ada pernyataan bahwa musik Klasik baik untuk ibu hamil, janin, dan bayi. Demikian pula musik Barok. Namun apakah konsumen paham dengan istilah klasik atau Barok secara musikologis?

Pendapat Zoltan Kodaly (salah satu dari Bapak Pendidikan Musik) asal Hongaria juga dianulir seolah beliau sependapat dengan promosi industri musik. Kodaly adalah salah satu komponis, filsuf, dan pendidik musik asal Hongaria yang sangat tidak suka dengan budaya dan musik Jerman. Sehingga ia bersama Bela Bartok (pianist dan komponis) mengangkat dan menciptakan meetode pendidikan musik berdasarkan kultur etnis Hongaria. Sehingga tidak masuk akal jika ia akan mendukung karya musik Mozart atau Beethoven yangnota bene berasal dari Jerman apa lagi untuk terapi. Seandainya pun musik benar-benar terbukti dapat dimanfaatkan lebih dari sekadar hiburan, dapat dipastikan yang digunakan Kodaly adalah musik Hongaria bukan dari budaya Barat lainnya.

Advokasi mengenai efek musik dengan penjelasan teknis yang sedemikian rupa juga seolah berusaha meyakinkan bahwa musik tertentu memiliki keampuhan luar biasa. Sementara kompleksitas musik karya Johann Sebastian Bach pun masih sering membuat orang yang belajar musik serius harus mengernyitkan kening, karena musik merupakan seni yang dihasilkan hanya dapat diapresiasi bila disertai referensi pengetahuan mengenai karya tersebut.

Seandainya ada ahli yang mendapat pelatihan terapi musik di India mungkin musik yang terbaik adalah karya Ravi Shankar. Atau kalau mendapat pelatihan di USA, bisa saja musik-musik Louis Amstrong atau bahkan Michael Jackson. Kira-kira seperti itu yang tertangkap dari membaca artikel itu. Penulis lagu anak, AT. Machmud akan terpesona bila mengerti lagu ciptaannya (Pelangi) dapat mengenalkan janin dengan kata Tuhan. Walaupun kata Tuhan tidak terlalu penting dibandingkan dengan memercayai, menghayati, dan mengamalkan kehadiran Nya. Apa pun informasi mengenai pengaruh musik tetap merupakan perkembangan yang menarik terutama bila musik mendapat perhatian lebih dari kenikmatan auditori primitif.

Komentar

Postingan Populer